Hampir seminggu aku berada di negeri orang, terbang dari Negara satu ke Negara lain yang masih berada di kawasan asia, membuatku sedikit kelelahan, bukan lelah fisik tapi lebih berimbas pada lelah hati, aku sangat merindukannya, merindukan sosok yang selama satu tahun ini menempati ruang kosong di hatiku. Kalau dulu aku akan senang hati untuk berpergian keluar negeri bersama anggota lain, tapi sekarang ini seperti ada beban ribuan ton yang mengendap di kaki yang membuatku enggan untuk melangkah menjauh dari korea. Seakan ada magnet kuat yang membuatku harus terus menetap di negeri ini agar bisa melihat sosoknya setiap hari, tapi itu tidak mungkin, aku sudah terikat kontrak yang mengharuskanku tetap tersenyum di atas panggung dari satu Negara ke Negara lain, tidak peduli bagaimana kondisiku saat itu.
Akan ku ceritakan gadis itu, gadis yang sudah membuat seorang kim jongwoon tidak bisa berpaling ke arah lain, dia cantik untukku, kenapa aku bilang begitu? Karena bisa saja orang lain menganggapnya biasa saja, tapi untukku dia cantik atau bisa di bilang lebih dari sekedar cantik, dia sangat suka musim dingin, itu yang membuatku sedikit khawatir, karena dia suka berdiri di atas balkon tanpa menggunakan baju hangat untuk merasakan dinginnya butir-butir salju yang jatuh di telapak tangannya, dia juga sangat mencintai musim semi, karena di musim itu bunga sakura bermekaran, bunga yang sudah berhasil membuatnya terpesona, dia bukan sosok yeoja yang senang akan sesuatu hal yang berbau romantis, ketika setiap yeoja akan mengucapkan terima kasih ketika di bawakan seikat bunga mawar, dia justru akan memberikan tatapan tajam dan yang lebih parah kalian langsung di usir sebelum menginjakkan kaki di apartemennya, dia sangat suka membaca sesuatu yang berbau fiksi, semacam novel atau fanfic, yang anehnya dia sangat suka membaca fanfic yang berhubungan dengan cho kyuhyun, itu yang membuatku sering merasa jengkel padanya.
Kalau setiap orang bilang yeoja yang berkencan denganku agar cemburu dengan kura-kuraku, dia tidak, ketika aku sibuk dengan kura-kuraku, dia akan sibuk dengan laptop atau i-phone-nya, dan akhirnya aku lebih bersikap cemburu pada kedua benda kesayangannya. Dia Sangat suka menonton kdrama dan akan memuji terang-terangan actor yang baru saja berperan di hadapanku tanpa peduli bagaimana perasaanku, tapi aku tidak pernah merasa marah, karena aku suka setiap kali melihat ekspresinya bercerita, dan pertanyaan yang paling aku suka adalah aku selalu bertanya sebanyak apa dia mencintaiku, kalian pasti penasarankan apa jawabannya? Haha sebentar lagi kalian akan tau, karena aku sudah sampai di depan pintu apartemennya.
Kamar 222 dimana tempat yeoja itu tinggal, aku melihat sepatu menganjal di ujung pintu sehingga membuat pintu tidak tertutup rapat, ck sifat cerobohnya memang tidak pernah hilang, itu yang membuatku selalu bersikap protektif padanya, aku langsung masuk kedalam dan menutup pintunya sepelan mungkin agar dia tidak mendengar. Ruangan yang di dominasi warna biru langsung terhampar begitu memasuki apartemennya, dia memang pecinta warna biru, warna yang menenangkan menurutnya.
Ruang tengahnya terlihat kosong, hanya ada setumpuk cemilan di atas mejanya, dia memang sangat suka ngemil tapi anehnya badannya tetap saja kurus, kakiku terus melangkah, ke tempat favoritnya, sebuah sudut yang dia ubah menjadi tempat yang sangat menyenangkan, tepat di depan sebuah kaca besar seorang yeoja sedang duduk di meja belajarnya sambil menatap focus layar laptopnya, hanya menggunakan celana pendek dan baju pas badan, aigoo dia terlalu bodoh atau apa, sudah tau sekarang sedang musim dingin tapi hanya memakai pakaian seperti itu, memang di ruangan ini terdapat penghangat tapi tetap saja udara dingin mendominasi.
Ku gerakan kakiku menuju kamar tidurnya, bukan bermaksud lancang memasuki kamarnya, tapi aku hanya ingin mengambil baju hangatnya, aku mengambil sehelai baju hangat berwarna biru muda, dan langsung menutup kembali pintu kamarnya, ck dia belum sadar juga ada orang memasuki apartemennya, selalu seperti ini, mengabaikan dunia nyata ketika dirinya sudah menjelajahi dunia maya.
Langkahku berhenti tepat di belakang bangku yang tengah di dudukinya tapi rupanya dia masih belum sadar juga, aku dapat melihat kepalanya mengangguk-angguk kecil mengikuti irama music yang sedang di dengar lewat earphone-nya, dan matanya menatap focus tulisan yang aku yakin itu fanfic yang biasa di buat oleh elf. Tanganku langsung bergerak ke arah kepalanya, memasukan secara paksa baju hangat yang berada di tanganku, dia sedikit memberontak, tapi kekuatanku lebih besar darinya, akhirnya dia mengalah dan membiarkanku memakainkan baju hangat di tubuhnya.
“apa yang sedang kau baca?” tanyaku sambil memeluk tubuhnya dari belakang, meletakkan daguku di pundaknya dan ikut mengamati apa yang tertera di layar laptopnya, aku dapat merasa tubuhnya menegang, dia memang tidak terlalu menyukai skinship, hanya pelukan yang di tolerirnya, itupun selalu aku yang menarik paksa tubuhnya masuk ke dalam dekapanku.
“ani, ani, aku tidak melihat apa-apa “ jawabnya gelagapan sambil menutupi layar laptop dengan kedua tangannya.
Tanganku dengan sigap menarik kedua tangannya dan menguncinya dalam pelukanku, semetara tangan kananku yang bebas mengambil alih mouse yang sedari tadi di kuasainya, ku gerakan mouse itu untuk melihat apa saja yang sedari tadi di bukanya, beberapa fanfic ,youtube yang sedang memutuar MV ft.island band yang membuatnya melupakan suaraku, dan beberapa artikel tentang super junior, dan tanganku berhenti ketika melihat sebuah artikel lama tentang yoo so young yang mengupload fotonya setelah datang coffe shop keluargaku. Dengan cepat ku arahkan mouse ke tanda close untuk mengakhiri aktifitas dunia mayanya.
“kyaaaa ANDWAEEE OPPA, kenapa kau selalu menggangguku” ucapnya kesal ketika layar laptopnya berubah menjadi hitam. Dia langsung memberotak dalam pelukanku dan langsung bangkit dari tempat duduknya dan menatapku tajam.
“ya! Kenapa kau marah padaku? Memangnya kau tidak merindukanku?” kataku sedikit merajuk, tapi sepertinya sia-sia, dia tetap memasang muka masamnya, yang jujur saja membuatku berhasrat untuk memeluknya.
“untuk apa merindukan orang yang egois” jawabnya pedas, sambil berjalan ke arah dapur dengan langkah kaki yang di hentak-hentakkan seperti anak kecil, umurnya saja yang sudah dewasa tapi tingkahnya sama sekali tidak menunjukan kedewasaannya.
“aku ingin kopi hangat” teriakku sambil melangkah ke ruang tengah.
“mwo? Cish kau fikir aku pembantu mu, pulang saja sana ke drom mu” teriaknya dari arah dapur, sebenarnya tidak perlu berteriak, karena jarak dari ruang tengah ke dapur hanya beberapa meter saja.
“kau mengusirku yessa-a?” tanyaku padanya.
“kau cukup pintar untuk mengartikannya” ucapnya yang sudah duduk di sampingku dengan satu gelas coklat panas di tangannya, sama sekali tidak membuat minuman untukku.
“hey apa kau marah hanya karna aku mematikan laptopmu?” tanyaku padanya, aku mengubah posisi dudukku ke arahnya, tidak mau menyia-nyiakan waktu untuk melihat paras cantiknya.
“kau bilang ‘hanya’?” katanya dengan mata membulat sempurna “kau menutup bacaan yang aku belum selesai baca, kau membuatku berhenti mendengarkan suara merdu hongki oppa, dan kau. . aish sudahlah kau menyebalkan” ucapnya gusar sambil meletakkan coklat panas yang baru beberapa teguk di minumnya.
“aku datang jauh-jauh kesini di tengah dinginnya hari, dan begini cara menyambut kekasihmu kim yessa?” kataku sambil membenarkan poninya yang sedikit berantakan. “kau benar-benar tidak merindukanku huh?” tanyaku sambil menatap bola matanya yang berwarna hitam pekat.
Matanya sedikit menerjap, dia paling tidak suka di tatap, bahkan ketika berbicara pada orang dia jarang menatapnya langsung, hanya orang-orang yang di anggapnya nyaman yang bisa di tatapnya.
“jangan bertanya hal-hal yang sudah kau tau jawabannya oppa” jawabnya ketus
“kau merindukanku eh? Kenapa tidak memelukku?” kataku menggoda
“kau ingin aku tendang?”
“aku ingin kau cium” jawabku masih tetap menggodanya.
“berhentilah bergaul dengan monyet gunung itu, otakmu jadi ketularan yadong”
“jinja? Kalau begitu aku akan bergaul dengan donghae, agar bisa romatis dihadapamu”
“lebih baik kau bunuh aku” jawabnya sengit.
“hey kau kenapa sebenarnya?” tanyaku serius sambil menarik dagunya agar melihat ke araku, aku melihat tatapan matanya yang sedikit meredup, apa cerita yang baru saja di bacanya sangat sedih? Dia memang terlalu terbawa perasaan jika sudah menghayati suatu fanfic.
“hanya sedikit berfikir, tadi aku membaca katanya berpacaran dengan seorang idola itu lebih banyak dukanya dari pada sukanya, ketika kau merindukannya, kau tidak bisa berbuat apa-apa, tapi ketika dia merindukanmu, dengan seenaknya dia mendatangimu dan mengganggu aktifitasmu, tidak peduli seberapa besar kekesalanmu, kau akan memaafkan dia begitu saja karna alasan konyol kau juga merindukannya”
“kau menyesal menjadi yeojachinguku?” Tanyaku sedikit khawatir, aku tau hubungan ini tidak menyenangkan, aku selalu meninggalkannya dalam waktu yang cukup lama, bahkan terkadang aku tidak cukup waktu untuk menghubunginya dalam sehari karena padatnya jadwalku.
Seulas senyum terukir di bibir mungilnya “aku sangat beruntung memilikimu” jawabnya, aku dapat merasakan ketulusan dari ucapannya “tapi aku juga merasakan apa yang penulis itu rasakan” tambahnya.
“apa aku menyebalkan?”
“sangat” katanya sambil mengangguk “oppa kau dekat dengan yoo so young?” tanyanya dengan mata berbinar, selalu seperti itu jika dia ingin mengetahui sesuatu, matanya merupakan daya tarik, tidak ada yang berani menolak permintaannya jika sudah melihat matanya. Bahkan seorang kim heechul selalu menuruti keinginannya sebelum dia berangkat wamil.
“dia teman dekatku, wae? Kau cemburu?” kataku menyelidik, dia bukan tipe yeoja yang mengungkapkan kecemburuannya secara gamblang, lebih sering menyimpannya rapat-rapat seorang diri.
“dia sangat cantik, kenapa kau tidak bersamanya?” ucapnya polos, tidak sedikitpun raut cemburu terpancar dari wajahnya, ya tuhan kekasih macam apa dia? Sangat senang menjodohkanku dengan orang lain.
“kenapa kau mau aku bersamanya?” tantangku, tidak biasanya aku seperti ini, biasanya aku akan memasang muka cemberut karena keinginan anehnya, tapi kali ini aku ingin mendengarnya lebih banyak bicara.
“eonni so young itu cantik meskipun tanpa make up, aku melihat ketulusan terpancar dari wajahnya, dan yang lebih penting dia itu”
Belum sempat di meneruskan kata-katanya tanganku sudah bergerak meraih tekuknya dan menempelkan bibirku di bibirnya, tidak lama, hanya beberapa detik aku melumat bibirnya, rasa coklat, mungkin karena tadi dia habis meneguk coklat panas.
Memang bukan pertama kalinya aku menciumnya, tapi aku dapat melihat dia menundukan wajahnya dalam-dalam untuk menghindari tatapanku. Aku langsung meraih tubuhnya masuk ke dalam dekapanku.
“setiap kau menjodohkanku, setiap itu pula aku akan menciummu” kataku sambil mengelus rambut panjangnya.
“yak!! Kau menyebalkan kim jongwoon” ucapnya di dalam pelukanku. Aku tertawa kecil mendengarnya.
“aku tidak suka kau menjodohkanku dengan gadis lain, memangnya kau tidak mencintaiku huh?”
“tentu saja pabo, siapa yang tidak mencintai yesung super junior” ucapnya setengah meledek, kini dia sandarkan kepalanya di dadaku, seperti dia sudah nyaman berada di dekapanku.
“seberapa banyak?” pancingku, dia mendongakkan kepalanya untuk menatap mataku, aku tersenyum manis ke arahnya, sedangkan dia malah membuang mukanya dan menenggelamkan kembali kepalanya di dadaku.
“aku bosan menjawabnya” keluhnya.
“ayolah, aku senang mendengarnya” kataku sedikit merajuk, entah mengapa sifat kekanak-kanakanku sering keluar begitu saja jika bersamanya, sedikit memalukan memang, tapi aku tidak peduli, bermanja-manjaan dengannya sangat menyenangkan :p
Dia berusaha melepaskan pelukanku tapi tidak ku biarkan, lagi-lagi dia mengalah di dalam dekapanku
“sebanyak elf yang tersenyum padamu, sebanyak itu pula aku mencintaimu” jawabnya pelan, sudah berkali-kali aku mendengar kalimat ini meluncur dari bibirnya, tapi aku tidak pernah bosan mendengarnya.
“lalu jika tidak ada elf yang tersenyum padaku kau akan berhenti mencintaiku?” tanyaku sambil menaruh daguku di puncak kepalanya.
“bukankah aku seorang elf? Aku akan tersenyum padamu sampai aku tidak bisa tersenyum lagi ,dengan begitu aku tetap mencintaimu” jawabnya lagi. “seberapa banyak kau mencintaiku” Tanyanya spontan, baru kali ini dia bertanya seperti ini, aku sedikit gelagapan mendengarnya, jujur saja aku bukan tipe namja yang bersikap romatis, ah bodoh kenapa selama ini aku tidak bergaul dengan donghae
“sebanyak hembusan nafasku, sebanyak aku berkedip sepanjang hari, heem sebanyak” belum sempat aku melanjutkan ucapanku, sebuah tangan langsung mendekap mulutku, memaksaku untuk berhenti bicara. Dia melepas pelukanku dan menatapku dengan sorot mata penuh kegelian.
“aish stop oppa, aku merasa itu bukan dirimu” ucapnya sambil tertawa lebar.
“hahaha wae? Bukankah itu romantis?” tanyaku padanya, meskipun dia sering tergila-gila pada bacaan yang romantic, tapi jika ada yang mempraktekkannya secara langsung justru dia akan ilfeel setengah mati
“cish aku akan terbuai jika yang mengatakan itu joo ji hoon, kau tau? Kata-kata romantic yang keluar dari mulutmu justru terdengar mengerikan” katanya dengan tampang innocent.
“jadi joo ji hoon mu itu lebih baik dari aku?”
“tentu saja, dia tampan, dingin, senyumnya seperti malaikat” pujinya dengan senyum mengembang, kalau biasanya aku sangat senang melihat senyumnya, tapi untuk kali ini tidak, aku tidak akan ikut tersenyum saat dia memuji namja lain.
“kalau begitu kenapa kau tidak jadi yeojachingunya saja” kataku kesal, ku rebahkan kepalaku ke sandaran sofa dan ku dongakkan kepalaku untuk melihat langit-langit apartemen, sama sekali tidak berniat melihat wajahnya yang berbinar ketika memuji namja lain.
“bodohnya aku tidak pernah bisa” ucapnya pelan sambil menyandarkan kepalanya di bahuku, tidak biasanya dia bersikap manja padaku “ji hoon oppa memang tampan, tapi dia tidak pernah muncul untuk ku rindukan, senyumnya memang menawan tapi ada senyum seseorang yang selalu membuatku hatiku tertawan, sebanyak apapun aku membaca novel, sesering apapun aku terpesona dengan sikap kyu oppa di fanfic, sebanyak apapun drama yang membuatku memuji namja tampan, tapi tetap saja seorang namja yang bernama kim jongwoon mendominasi tempat di hatiku, di pikiranku, bahkan di setiap hembus nafasku”
Tubuhku sedikit menegang mendengar ucapannya, bahkan jantungku nyaris meloncat dari tempatnya, ada apa dengannya, ini pertama kalinya dia bersikap gamblang terhadap perasaannya, dia bahkan tidak pernah menelfonku duluan untuk sekedar mengucapkan selamat malam, selalu aku yang memulai duluan, untuk ukuran yeoja dia itu sangat kaku, nyaris terkesan dingin, kesan yang pertama yang kalian lihat jika bertemu dengannya adalah dia tidak mencintaiku, karena sifatnya yang seperti itu.
Ku gerakan tubuhku agar bisa melihat ekspresinya, tapi dengan sigap dia mencegah, membiarkanku agar tetap pada posisi semula, menatap langit-langit sambil mendengarkannya berbicara.
“mungkin aku bukan tipe yeoja yang kau idamkan, aku terlalu kaku untuk sekedar mengucapkan saranghae atau bogoshipo, yang aku bisa lakukan hanya bersikap dingin dan angkuh, tapi itu semua ku lakukan karena aku tidak tau harus bersikap apa di hadapanmu”
“kau tau kenapa aku sering menjodohkanmu pada gadis lain? Karena aku merasa tidak pantas bersanding di sampingmu, kau terlalu sempurna bahkan kau terlalu menyilaukan untukku, yeoja mana yang tidak memuji mu? Seorang yesung super junior dengan suara emasnya dan tampang imutnya” ucapnya pelan.
“berhenti berbicara atau aku akan menciummu” ancamku ketika melihat mulutnya sudah terbuka untuk melanjutkan kata-katanya yang semakin mengawur.
Detik itu juga dia langsung membungkam mulutnya dengan telapak tangannya dan menatapku tajam seakan ingin menerkam. Aku langsung menyungingkan smirkku ke arahnya.
“BERHENTI BERSIKAP MESUN OPPA!” teriaknya kesal sambil melempar bantal sofa ke arahku.
“berhenti berbicara yang tidak-tidak yessa-a, berhenti menyakiti dirimu sendiri dengan pikiran-pikiran bodohmu”
“aku memang bodoh, berhentilah menjadi kekasih seorang gadis bodoh”
“aku tidak bisa, salahkan saja kenapa gadis bodoh itu selalu berkeliaran di pikiranku”
“kalau begitu cobalah pikirikan yeoja-yeoja cantik, dengan begitu gadis bodoh itu akan hilang dari pikiranmu”
“tidak bisa, gadis bodoh itu sudah membangun pagar pembatas di otakku sehingga tidak ada seorang yeoja pun yang dapat menembusnya” jawabku tidak mau mengalah.
“kau menyebalkan” ucapnya kesal, sepertinya di sudah menyerah adu mulut denganku.
“gomawo”
“pergi dari apartemenku” katanya kesal
“pantatku sudah menempel, jadi tidak bisa” jawabku asal
“OPPA!!!”
“wae?”
“aku membencimu”
“nado, saranghae”
“kim jongwoon pabo pabo pabo”
“ne , aku memang tampan, jangan di ucapkan berkali-kali”
“aku bisa gila” dengusnya kesal
“gila karena memikirkanku” sahutku
“cish, terserah kau sajalah” ucapnya putus asa
“hey kau tau kenapa aku menyukai musim gugur?” tanyaku sambil merebahkan kepalaku di pangkuannya, dia sama sekali tidak menolak.
“wae?” Tanya acuh, sepertinya dia marah padaku.
“karena setiap daun yang berguguran selalu mengingatkanku padamu” ucapku, semburat berwarna merah langsung muncul di kedua pipinya membuatku tidak kuasa menahan tawa, tiba-tiba saja sebuah bantal mendarat di muka menghentikan tawaku, aku berusaha menyingkirkan bantal itu tapi tidak bisa, sebuah tangan menekannya dari atas.
“yak! Lepaskan aku bisa mati pabo” kataku sambil berusaha melepaskan bantal yang di tekannya.
“aku hanya bercanda, lepakan yessa~a” ucapku memohon, aku yakin suara yang keluar dari mulutku tidak jelas, karena mulutku tertutup dengan bantal sialan itu.
“sejak kapan kau belajar menggombal hah?” tanyanya setelah melepaskan bantal dari mukaku.
“sejak mengenalmu” jawabku lagi-lagi menggodanya.
“kau tau seberapa banyak butir salju yang turun di musim dingin?” Tanya dengan raut wajah serius
“tidak tau” jawabku acuh, cih dia pikir aku kurang kerjaan sampai-sampai menghitung salju yang turun.
“sebanyak aku merindukanmu setiap hari” ucapnya sambil tertawa lebar
Mataku melebar mendengar ucapannya, aigoo gadisku sudah bisa menggombal rupanya.
“Ottokhae? Hahaha aku tidak kalahkan darimu kan?” ucapnya sambil menjulujurkan lidahnya ke arahku.
“cukup bagus” jawabku sambil menjepit hidungnya dengan kedua jariku “kau bisa diam tidak?” kataku padanya.
“tentu saja bisa” jawabnya mantap
“diam di hatiku aja, jangan kemana-mana lagi”
“huahahahaha kau konyol oppa” katanya tidak kuasa menahan tawa.
“oppa, kau made in korea ya?”
“tentu saja, aku warga korea asli” jawabku bangga
“oh, aku kira made for me” ucapnya sambil tertawa geli
“jagiya~a antar aku rontgen”
“untuk apa? Memang kepala besarmu kenapa?” tanyanya setengah becanda
“biar kau tau kalau isi pikiranku isinya tentangmu semua” jawabku sambil tersenyum manis ke arahnya.
“hahaha cukup oppa, perutku sakit sedari tadi tertawa terus”
“kau senang hari ini?” tanyaku padanya, sesekali tanganku bergerak membetulkan letak poni yang mengganggu penglihatannya.
“tentu saja, gomawo oppa” ucapnya sambil tersenyum manis
Kalian tau apa yang terindah dalam hidup? Melihat senyum tulus dari orang yang kita sayangi, tidak perlu benda berharga, tidak perlu restoran mewah, asal kau bisa membuatnya nyaman dan senang, di situ kau akan menemukan keindahan.
-FIN-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar